Tag: sejarah seni musik

Sejarah seni music dan nada yang ada di Indonesia

Posted on April 14, 2020 in Keberagaman Musik

Sejarah seni music dan nada yang ada di Indonesia

Asal usul musik di Indonesia. Prasejarah musik Indonesia semenjak ribuan tahun yang kemudian nyatanya kemajuan musik Indonesia telah terbukti, alhasil musik itu dibilang sudah melewati batasan bahasa, kultur apalagi agama. Untuk orang barat, India kerap disamakan dengan Indonesia. Mereka mengatakan India dengan Indie( Nedherland- Oost) yang artinya Indonesia.

Asumsi sejenis itu menyebabkan kekayaan perlengkapan seni ataupun keelokan di Indonesia tidak diperhitungkan oleh bangsa lain, paling utama durasi kolonialisme Belanda sedang bercokol di dunia Indonesia.

Khasanah seni di Indonesia merupakan amat banyak serta baik besar serta bisa disejajarkan dengan seni klasik di negara yang bertumbuh.

A. Zaman Prasejarah( saat sebelum abab 1 Kristen)

Nyatanya prasejarah Indonesia belum banyak diawasi dengan tutur lain diselidiki oleh para arkeolog, ahli sejarah ataupun yang lain. Sementara itu malah durasi antara tahun kurang lebih 2500 Saat sebelum Kristen serta era ke- 1 Kristen menciptakan kemajuan kultur tercantum nada hingga dikala ini.

Bagi Alec Robertson serta Denis Stevens( pengarang novel Geschichte der Nada 1 dari Munchen, Germany), pada zaman Mesolitikum kurang lebih tahun 5000 Saat sebelum Kristen di Asia Tenggara ada 3 suku bangsa besar: orang Australide( masyarakat asli), orang Melanesia( berawal dari Asia Tengah) serta orang Negrito( bisa jadi dari India). Susunan dasar ini di tumpangi susunan terkini dengan 2 arus imigrasi besar:

1. Imigrasi Pra- Melayu

Antara tahun 2500 serta 1500 Saat sebelum Kristen rasanya terjalin sesuatu perpindahan bangsa dari Asia Tengah ke Asia Tenggara. Dalam perjalanannya mereka mengambil pula faktor dari Kaukasus serta Mongolia.

Mereka bawa dan kultur bambu dan metode pengerjaan lading. Paling utama di Annam( Tiongkok Selatan) mereka memberitahukan sejenis lagu pantun dimana putra serta gadis bersenandung dengan metode jawab membalas.

Mereka mengenakan suatu perlengkapan hembus bernama Khen terdiri dari 6 batang bambu yang ditiup bersama dalam golongan d ataupun 3 bunyi. Perlengkapan ini diketahui pula di CinaSheng serta di Kalimantan dengan julukan Kledi. dengan nama

Perlengkapan ini cuma ialah salah satu perlengkapan dari beberapa besar perlengkapan nada bambu yang hingga saat ini ada di Asia Tenggara. Beberapa batang bambu dengan dimensi yang berbeda- beda di tabur di tanah. Desiran angin memunculkan suara bagaikan Kledi raksasa yang lumayan bagus( ada di Bali hingga saat ini).

Perlengkapan nada bambu lain semacam seruling, angklung serta lain serupanya. Sudah hadapi sesuatu cara kemajuan pada durasi setelah itu. Semacam xylofonAsia Tenggara dalam wujud berbeda- beda: bagaikan’ tatung’ di Annam,‘ rangnat’ di Kamboja,‘ ranat’ di Thailand,‘ pattalar’ di Birma,‘ gambang’ di Jawa,‘ kolintang’ di Sulawesi serta Kalimantan. Xylofon justru diekspor dari Asia Tenggara ke Afrika pada era 5 Kristen. yang terhambur diseluruh

2. Imigrasi Proto- Melayu pada zaman perunggu( era 4 Saat sebelum Kristen)

Bagi para pakar asal usul terjalin lagi sesuatu gelombang imigrasi ke Indonesia di dekat era 4 Saat sebelum Kristen berakar dari sesuatu wilayah Tiongkok SelatanAnnam. Perihal ini dibuktikan pula oleh P. Wilhelm Schmidt( 1868- 1954) yang menciptakan kalau para masyarakat Indonesia, Melanesia serta Polynesia bersumber pada satu bahasa yang serupa( yang memanglah setelah itu bertumbuh individual). Filosofi ini pada zaman saat ini dibantu oleh nyaris seluruh pakar asal usul. bernama Sebab ini terjalin pada era perunggu hingga kehadiran mereka pengaruhi pula kultur nada.

Diperkirakan kalau gong- gong awal berawal pula dari Asia Selatan, sebab di dekat Annam, pada tahun 1930- an ditemui banyak sekali perlengkapan dari perunggu, alhasil teruji kalau dari sinilah kultur perunggu terhambur tidak cuma ke Indonesia namun ke semua Asia Tenggara.

Hingga kultur ini pula diucap“ kultur Dong- son”. Kultur ini berjalan dari era 7- 1 Saat sebelum Kristen serta menggapai puncaknya pada era 3- 2 Saat sebelum Kristen.

Gimana dengan nada dalam kultur Dong- son? Kita tidak ketahui apa- apa mengenai nada mereka. Diperkirakan kalau gong mereka berdimensi besar, hingga musiknya berat.

Bagi pakar asal usul khusus tangga bunyi Pelog turut dibawa ke Indonesia oleh golongan Proto- Melayu. Bagi Alec Robertson serta Denis StevensPelog awal mula terhambur di semua Asia Tenggara, tetapi setelah itu paling utama dipelihara di Jawa serta Bali. Sebab tidak terdapat memo hingga tidak bisa dikenal filosofi nada yang melatarbelakangi tangga bunyi yang istimewa ini. tangga nada

Rupa- rupanya awal mula digunakan buat seremoni mendatangkan hujan dengan cara magig( kebatinan). nyatanya ditemui dalam pengerukan di

Akibat dari kultur Dong- son ke Indonesia tidak berarti kalau di Indonesia durasi itu tidak ada kultur sendiri, namun terjadilah sesuatu kemajuan: barang- barang dari perunggu serta besi yang masuk“ kasalisator”: walaupun tadinya di Indonesia diperkirakan tidak terdapat perunggu( timah serta kuningan), tetapi setelah itu teruji kalau orang Jawa durasi abad- abad awal Kristen jadi pakar dalam perihal memasak metal, paling utama perunggu.

B. Zaman Asal usul( Hindu- abad 4- 12)

Sesuatu‘ revolusi’ terjalin pada era 1 Saat sebelum Kristen di durasi terbuat kapal besar- besar di teluk PersiaLaut Tiongkok. Hingga kemudian rute ke Indonesia juga jadi intensif( tadinya diperkirakan kemudian rute terjalin paling utama melalui darat). Paling utama orang dagang India menghadiri daerah- daerah Indonesia semenjak era 2 serta 3 Kristen buat perdagangan. Hingga akibat India di Indonesia serta imbuh besar, bagus dari bidang perdagangan serta politik ataupun agama serta kultur.

Dari dokumen- dokumen serta temuan terlihat kalau agama Budha masuk kepulauan IndonesiaSumatera pada dini era 7 Kristen dalam kerajaan Sriwijaya serta setelah itu di Jawa dengan kerajaan Syailendra( 750- 850 Kristen). Akibat kultur India menggapai puncaknya dari medio era 8 Kristen hingga era 11 Kristen dimana tahap daya cipta yang amat besar. Pada era itu berkembanglah kultur Jawa berbentuk nada serta tari, arsitektur serta seni muka, pada durasi itu dibangunlah Candi Borobudur serta Candi PrambananIndonesia dari era kemudian hingga saat ini. pada era 4 Kristen. Mereka mendirikan pusatnya di pulau yang jadi kebesarhatian bangsa

Tidak hanya tangga bunyi Pelog digunakan pula tangga bunyi Slendro yang wujud serta warnanya dipublikasikan oleh Bangsa Syailendra pada era 8 Kristen. Bagi narasi tangga bunyi ini ditemui oleh dewa Barata Endra atas petunjuk dewa Shiva. Merurut filosofi, satu oktaf dipecah dalam 5 istirahat yang serupa( 6 atau 5 dari sekon besar). Tetapi nyatanya tidak senantiasa begitu. Justru dalam pengerukan di JawaCina serta nada India. ditemui alat- alat kuno dengan tangga bunyi yang mendekati dengan tangga bunyi pentatonic( dengan istirahat sekon- sekon serta terts kecil), serupa perihalnya dengan tangga nada

Kemajuan nada amat dipengaruhi oleh drama Hindu dalam bahasa Sansekerta Ramayana. Drama ini diterjemakan serta diolah leluasa dalam banyak bahasa di Asia Tenggara. Hidangan dari fragmen- fragmen drama ini amat digemari. Setelah era 9 Kristen ada alih bahasa dalam bahasa Jawa serta sangat sedikit semenjak era 11 Kristen dipentaskan di Jawa. Tidak hanya Hidangan tari berkembanglah pula tipe boneka, sesuatu adat- istiadat yang tampaknya berawal dari zaman pra- Hindu.

Durasi orang Hindu tiba ke Jawa, hingga mereka sudah menciptakan beragam perlengkapan nada. Dalam relief pada Borobudur ada perlengkapan nada local ataupun perlengkapan nada yang diimpor dari India semacam gendamg, tercantum rebana dari tanah dengan kulit cuma di satu bagian, kledi, seruling, angklung, perlengkapan hembus( sejenis hobo), xylofon( wujudnya separuh gambang, separuh calung), sapeq, sitar serta harpa dengan 10 kabel, bel dari perunggu dalam macam- macam dimensi, gong, saron, bonang. Tidak bisa disangkal kalau perlengkapan nada awal mula dimainkan bagi kerutinan India.

Tidak hanya itu dari penggalian- penggalian di Jawa Tengah sudah ditemui beberapa besar berkas bonang, nada- nada kelamin serta saron, bel, rebana, gong- gong, tetapi tidak nyata dari era berapa. Tidak seluruh perlengkapan nada itu di atas bertahan di Jawa dalam kemajuan durasi berikutnya. Tetapi terlihat kalau perlengkapan nada ini sudah digunakan saat sebelum zaman Hindu. Butuh dikenal kalau nada klonengan bagaikan nada herefon dengan pola irama yang banyak, keindahannya terdapat malah dalam suara bersama dari lagu serta aksen yang silih memenuhi jadi satu‘ simfoni bunyi serta aksen’. Sebaliknya nada India tercantum nada solotis( vocal ataupun instrumental) walaupun dimainkan pula dalam ansambel bagaikan arak- arakan. Tetapi berbagai macam macam perlengkapan nada di India tidak digabungkan dalam satu orkes, buat berikan independensi pada biduan serta pemeran.

Kalau seni nada semenjak dahulu di Jawa menemukan sesuatu apresiasi besar, bisa disimpulkan dari banyaknya lukisan perlengkapan nada dalam relief- relief dari zaman itu dan dari naskah- naskah kuno yang giat mengatakan julukan perlengkapan nada serta serupanya. Jadi Klonengan bagaikan orkes hadapi sesuatu kemajuan perlengkapan nada yang berawal dari India diintergrasikan ke dalam nada konvensional Jawa: gong- gong dalam macam- macam wujud serta dimensi, gambang ditambah beberapa perlengkapan lain yang beberapa dibiarkan dalam kemajuan zaman. Kalau terjadilah sesuatu kemajuan nada klonengan( hingga saat ini) meyakinkan alangkah besar nada ini sampai tidak terdapat bandingnya di Negeri lain di Asia Tenggara.

Pada era era 11 pusat politik alih dari Jawa Tengah ke Jawa Timur dengan Kerajaan Airlangga yang sukses menaklukkan semua Jawa( 1037), Sehabis itu dilanjutkan oleh kerajaan Singasari pada era 13. Area kewenangan hingga Kerajaan Majapahit( dibuat oleh Raden Keagungan dengan patihnya yang terkenal Gajah Mada). Dengan patihnya Gajah Mada pada tahun 1350- 1389 ialah pucuk kesuksesan Majapahit dengan Rezim Hayam Wuruk. Semua kepulauan( tercantum kerajaan Sriwijaya) masuk dalam area Nusantara( itu julukan area kerajaan Majapahit di luar pulau Jawa).

Hingga tidak membingungkan kalau pada durasi itu juga gong yang di Jawa di membawa ke semua Nusantara.

Tetapi itu tidak berarti kalau seluruh pulau mengenakan pula nada klonengan. Walaupun tangga bunyi Pelog diketahui pula di wilayah lain, tetapi biasanya nada di luar Jawa serta Bali menjajaki pola lain: ritmik yang banyak dan melodic yang kira- kira simpel bersumber pada tangga bunyi pentatonic tanpa separuh bunyi( pentatonic anhemitonis) merupakan karakteristik khasnya.

Pada akhir zaman Hindu klonengan telah komplit semacam zaman saat ini. Cuma satu perlengkapan belum terdapat: rebab. Walaupun begitu, bagi Jaap Kunst belum pasti seluruh perlengkapan dimainkan senantiasa bersama- sama. Bisa jadi sekali ada sesuatu ansambel dengan perlengkapan nada halus yang paling utama digunakan di dalam ruang dengan kelamin, gambang serta seruling.

Tidak hanya itu ada ansambel dengan perlengkapan nada keras dengan rebana, cymbal( di Jawa telah tidak terdapat), macam- macam gong yang digunakan paling utama diluar bangunan buat acara serta karnaval. Ansambel perlengkapan yang keras semacam di Jawa ada ada pula di pulau- pulau lain misalnya di Nias serta Flores Barat.

Klonengan Munggang, ansambel orkes klonengan tertua, nyatanya ialah ansambel berbagai ini pula.

Menurur Kurst, kedua ansambel terkini digabung jadi satu orkes klonengan setelah zaman Hindu. Serta inipun terjalin dalam kemajuan durasi. 1389– 1520 ialah zaman kemunduran serta kebangkrutan kerajaan Majapahit. Sedangkan itu di Malaka terjalin kemajuan kerajaan- kerajaan Islam yang berdaulat hingga Sumetera.

1511 Malaka direbut Portugis serta masuk pula ke Kepulauan Maluku( 1522). Sedangkan itu di Jawakerajaan Demak, Kerajaan Islam( 1500- 1546). berdiri

Kerajaan Demak memahami semua Jawa serta beberapa besar kepulauan di luar Jawa.

Bersama dengan agama Islam masuk ke Indonesia pula perlengkapan nada Arab: misalnya gendang, rebab, gambus.

Tetapi perlengkapan nada ini bertumbuh di Indonesia: berbedalah wujud serta metode main rebab: di Jawa, Bali, Sulsel, Sumba( di Sumba rebab ini diucap‘ dunggak roro’) dengan 2 kabel; di Sumatera, Kalimantan, Sulut serta Maluku dengan satu kabel; di Aceh dengan 3 kabel.

Berbedalah pula julukan gendang: melambung, trebang, robana, rabana. Sebaliknya gambus sejenis gitar atau mandolin) umumnya dilengkapi dengan perlengkapan semacam biola, akordeon, rebana, suling, bas jadi orkes gambus. Dengan tutur lain: perlengkapan nada ini hadapi sesuatu cara pengintegrasian ke dalam adat- istiadat nada Indonesia.