Tag: Sejarah Alat Musik

Sejarah Alat Musik Sasando dari Pulau Rote

Posted on March 30, 2021 in Keberagaman Musik

Setiap daerah pasti akan memiliki alat musik tradisionalnya masing-masing, termasuk pada alat musik dari pulau Rote, Nusa Tenggara Timur. Daerah ini memiliki alat musik khas tradisional yang bernama Sasando atau Sasandu. Nusa tenggara Timur, tepatnya di Kepulauan Rote ternyata memiliki kesenian tradisional yang khas dan dikenal yaitu Sasando Rote, alat musik tersebut telah dikenal di dunia Internasional, namun karena Minimnya pengetahuan tentang alat musik tersebut, seperti dikutip dari beberapa referensi di Media, mari kita bahas bersama jenis agen bola tangkas dan asal muasal alat musik tersebut.

Sasando merupakan alat musik tradisional dari kebudayaan Rote, Nusa Tenggara Timur. Orang-orang Rote menyebutnya (Sasandu), artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Atau dalam bahasa Kupang sering menyebutnya sasando, alat musik berdawai yang dimainkan dengan cara memetik dengan jari-jemari tangan. Sasando adalah sebuah alat instrumen musik yang dipetik. Konon sasando telah digunakan di kalangan masyarakat Rote sejak abad ke-7. Pada proses pembuatannya bahan utama sasando adalah bambu yang membentuk tabung panjang. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi penyangga atau ganjalan-ganjalan dalam bahasa rote disebut senda tempat senar-senar atau dawai direntangkan mengelilingi tabung bambu, bertumpu dari atas ke bawah. Senda ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan senar. Pada mulanya alat penyetem dawai terbuat dari kayu, yang harus diputar kemudian diketuk untuk mengatur nada yang pas. Lalu tabung sasando ini ditaruh dalam sebuah wadah yang terbuat dari anyaman daun lontar yang disebut haik. Haik inilah yang berfungsi sebagai resonansi sasando.

Sejarah Alat Musik Sasando dari Beberapa Versi

  • Versi 1 : Alat musik Sasando terbuat dari bambu khusus yang membentuk tabung panjang. Ternyata di balik bentuknya yang unik terdapat sejarah menarik. Salah satu kisah sejarah yang banyak berkembang di masyarakat mengenai Sasando berkaitan dengan pria bernama Sangguana. Dikisahkan, Sangguana jatuh cinta kepada seorang putri raja saat terdampar di pulau Ndana. Hanya saja, sang Raja tidak bisa menerima Sangguana begitu saja. Ia pun memberikan syarat kepada Sangguana agar bisa diterima, yakni membuat alat musik yang berbeda dari alat musik lainnya. Akhirnya Sangguana mendapatkan ilham dari mimpi, yakni memainkan alat musik yang indah serta bersuara merdu. Ia pun menciptakan Sasando untuk diberikan kepada sang Raja. Raja yang melihat Sasando langsung terpukau hingga akhirnya memperbolehkan Sangguana menikah dengan putrinya.
  • Versi 2 :  konon awalnya adalah ketika seorang pemuda bernama Sangguana (1950-an) terdampar di pulau Ndana saat melaut, ia dibawa oleh penduduk menghadap Raja di Istana. Selama tinggal di istana inilah bakat seni yang dimiliki Sangguana segera diketahui banyak orang sehingga sang Putri Pun terpikat. Ia meminta Sangguana menciptakan alat musik yang belum pernah ada. Suatu malam Sangguana bermimpi sedang memainkan suatu alat musik yang indah bentuk maupun suaranya. Diilhami oleh mimpi tersebut, Sangguana menciptakan alat musik yang diberi nama Sandi (artinya bergetar). Ketika sedang memainkannya Sang Putri bertanya lagu apa yang dimainkan dan Sangguana menjawab “Sari Sandu”. Alat musik itu pun ia berikan kepada Sang Putri yang kemudian menamakannya Depo Hitu yang artinya Sekali Dipetik Tujuh Dawai Bergetar.
  • Versi 3 : Sasando ditemukan oleh dua orang penggembala bernama Lumbilang dan Balialang (diceritakan oleh Jeremias Pah). Ketika meladang bersama domba-domba, mereka membawa sehelai daun lontar, saat kehausan di siang hari mereka melipat daun lontar tersebut untuk menimba air. Untuk melipat, bagian tengah daun berwarna kuning muda harus dibuang dan ketika hendak melepas, tali tersebut dikencangkannya. Tanpa disangka, ketika ditarik keras menimbulkan bunyi nada yang berbeda-beda. Tetapi, karena sering terputus keduanya lantas mencungkili lidi-lidi tersebut. Akhirnya, mereka menemukan bahwa apabila dikaitkan rapat akan membunyikan nada tinggi dan sebaliknya semakin merenggang, dawai akan menghasilkan nada yang rendah
  • Versi 4 : Sasando diciptakan oleh dua orang sahabat yaitu Lunggi dan Balok Ama Sina yang merupakan seorang penggembala domba sekaligus penyadap tuak. Ketika mereka sedang membuat haik dari daun lontar di antara jari-jari dari lembaran daun lontar terdapat semacam benang/fifik yang apabila dikencangkan akan menimbulkan bunyi. Dari pengalaman inilah menimbulkan inspirasi kedua sahabat ini untuk membuat suatu alat musik petik yang dapat meniru suara atau bunyi-bunyian yang ada pada gong, dengan cara mencungkil tulang-tulang daun lontar yang kemudian disenda dengan batangan kayu. Karena suara yang dihasilkan kurang bagus, maka kemudian diganti dengan batangan bamboo yang dicungkil kulitnya serta disenda dengan batangan kayu.
  • Versi 5 : Samuel Ndun alias sembe Feok (1897-1990) seorang manajer (ahli silsilah dan syair) di Rote bagian Barat, bahwa penemu Sasandu adalah seorang yang bernama Pupuk Soroba. Inspirasi  pembuatan Sasandu diperoleh Pupuk Soroba saat menyaksikan seekor laba-laba yang besar sedang asyik memainkan jaring (sarangnya) sehingga terdengar alunan bunyi yang indah. Berdasarkan pengalamannya itu Ia ingin menciptakan suatu alat yang dapat mengeluarkan bunyi yang indah. Untuk merealisir idenya itu, mula-mula Pupuk Soroba mencungkil lidi-lidi daun lontar yang mentah, lalu disenda, kemudian dipetik. Pikiran Soroba makin berkembang, terakhir ruas bambu dipasang pada haik yang terbuat dari daun lontar, serta senar atau dawai mula-mula dibuat dari serat akan pohon beringin, sesudah itu dibuat dari usus musang yang kering, dan ternyata menghasilkan resonansi bunyi yang lebih besar.

Perkembangan Alat Musik Sasando

Perkembangan Sasando berjalan terus seiring berjalannya waktu, terjadi modifikasi bentuk dan peningkatan kualitas bunyi yang diproduksi dengan penggantian dawai. Fifik berganti tulangan daun lontar, kulit bamboo berganti senar kawat, senar tunggal berganti dawai rangkap, akustik berkembang ke elektronik, Sasando Gong berkembang ke Sasando biola menjadi Sasando sebagai alat musik tradisional dengan sentuhan teknologi modern. Kemampuan dan semangat memodifikasi sasando ini mencerminkan karakter serta etos kerja orang Rote yang tinggi dan kedinamisannya dalam bermusik.

Sasando, dalam bidang organologi (ilmu tentang alat-alat musik) tergolong Sitar Tabung Bambu. Menurut para peneliti musik, sitar tabung bambu adalah alat musik asli Asia Tenggara (misalnya Filipina dan Indonesia) yang juga ditemukan di  Madagaskar dengan sebutan Valiha/Ali yang berasal-usul dari Asia Tenggara melalui perpindahan penduduk ( Stanley Sadie Band. The New Grove Dictionary of Musical Instruments).

Fungsi Alat Musik Sasando

Sasando berfungsi untuk mengiringi nyanyian, tari tradisional, upacara adat, hingga pertunjukan syair. Walaupun diciptakan di pulau Rote, Sasando juga berkembang di daerah lainnya, seperti Kupang. Akibatnya, kini Sasando tak hanya dibuat dari bambu khusus. Tetapi di tahun 1960-an juga berkembang menjadi alat musik elektrik oleh pemain Sasando Edu Pah.

Cara Memainkan Alat Musik Sasando

Untuk memainkannya Sasando, pemain hanya perlu memetik senar yang terdapat pada alat musik tersebut. Hanya saja tak seperti gitar, pemainnya harus menggunakan dua tangan yang berlawanan untuk memetiknya.

Tangan kanan akan berfungsi sebagai accord dan tangan kiri sebagai melodi atau bass. Untuk memainkannya, seseorang harus mempelajari beberapa teknik dari alat musik Sasando terlebih dahulu.

Sejarah Alat Musik Gamelan yang Ada di Indonesia

Posted on March 29, 2021 in Keberagaman Musik

Alat musik gamelan merupakan salah satu budaya asli dari Indonesia yang sangat mudah untuk kalian temukan di Jawa dan juga di Bali. gamelan merupakan alat musik ansambel yang terbuat dari logam serta gambang, gendang dan juga gong. Kalian sudah pasti tahu alat musik gamelan itu seperti apa bentuknya, tapi kalian tahu tidak si sejarah dari alat musik tersebut seperti apa? Apakah kalian penasaran sejarah alat musik gamelan serta cerita cerita menarik lainnya tentang gamelan ini? Berikut ini pengertian, sejarah dan juga cerita cerita mengenai alat musik gamelan. Berikut diantaranya.

Sejarah Gamelan

Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok di Indonesia dalam berbagai jenis ukuran dan bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad ke-18, istilah gong lebih dianggap sinonim dengan gamelan.

Kemunculan gamelan didahului dengan budaya Hindu–Budha yang mendominasi Indonesia pada awal masa pencatatan sejarah, yang juga mewakili seni asli indonesia. Instrumennya dikembangkan hingga bentuknya sampai seperti sekarang ini pada zaman Kerajaan Majapahit. Dalam perbedaannya dengan musik India, satu-satunya dampak ke-India-an dalam musik gamelan adalah bagaimana cara menyanyikannya. Dalam mitologi Jawa, gamelan diciptakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka, dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana di gunung Mahendra di Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu). Sang Hyang Guru pertama-tama menciptakan gong untuk memanggil para dewa. Untuk pesan yang lebih spesifik kemudian menciptakan dua gong, lalu akhirnya terbentuk set gamelan.

Gambaran tentang alat musik ensembel pertama ditemukan di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah, yang telah berdiri sejak abad ke-8. Alat musik semisal suling bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, kecapi, alat musik berdawai yang digesek dan dipetik, ditemukan dalam relief tersebut. Namun, sedikit ditemukan elemen alat musik logamnya. Bagaimanapun, relief tentang alat musik tersebut dikatakan sebagai asal mula gamelan.

Pengertian Gamelan

Gamelan merupakan salah satu alat musik yang terkenal di Indonesia. Alat musik yang satu ini sering kita jumpai pada beberapa kesenian tradisional di Indonesia, terutama di Jawa. Sebenarnya alat musik gamelan juga ada di beberapa daerah di sekitar Jawa, yaitu Bali, Madura dan Lombok. Arti gamelan sebenarnya berasal dari kata “gamel” yang dalam bahasa jawa mempunyai arti memukul atau menabuh. Sedangkan pada akhiran kata ada imbuhan kata “an” yang berfungsi membentuk kata benda. Dengan begitu makna gamelan bisa kita artikan sebagai kumpulan dari beberapa alat musik yang dimainkan dengan cara dipukul atau ditabuh.

Pada awalnya, relief gamelan ada pada dinding Candi Borobudur yang dibangun pada abad kesembilan. Relief pada dinding itu menggambarkan beberapa alat musik gamelan seperti: gendang, seruling bambu, kecapi, dawai dan lonceng. Kemudian pada masa kerajaan Hindu-Budha, alat musik gamelan mulai diperkenalkan pada masyarakat jawa kemudian berkembang di Kerajaan Majapahit. Secara tradisional, masyarakat jawa meyakini bahwa alat musik gamelan adalah diciptakan oleh dewa. Sang Hyang Era Saka adalah dewa yang diyakini sebagai pencipta gamelan itu, selain itu juga dipercaya sebagai dewa yang menguasai semua Tanah Jawa dengan istananya yang ada di daerah Gunung Mahendra (sekitar Gunung Lawu), daerah Medang Kamulan. Alat musik gamelan yang pertama kali diciptakan ialah Gong, yang pada saat itu dipakai untuk memanggil para dewa. Lalu diciptakan pula beberapa alat musik pengiring untuk menyampaikan pesan yang bersifat khusus. Sampai akhirnya terciptalah alat musik gamelan dengan lengkap yang sama seperti saat ini. Selain itu Gamelan Jawa juga berkembang pesat saat zaman Majapahit. Bahkan pada saat itu bisa menyebar ke beberapa daerah di sekitar Jawa, seperti Bali dan Sunda. Akan tetapi gamelan yang ada di Jawa Tengah berbeda dengan gamelan dari Bali dan Sunda. Gamelan Jawa biasanya mempunyai ciri khas yang berbeda, yakni dengan nada yang lembut. Sementara gamelan Bali lebih cenderung rancak dan gamelan Sunda biasanya terdengar lebih mendayu karena lebih didominasi dengan alat musik seruling.

Perkembangan pada Gamelan

Gamelan Jawa pada umumnya digunakan untuk mengiringi sebuah kesenian seperti wayang kulit dan pertunjukan tari. Sampai pada sekarang ini gamelan bisa berdiri sendiri sebagai sebuah pertunjukan alat musik yang banyak diminati. Selain itu, supaya lebih lengkap lagi, kemudian pada pertunjukan itu diiringi oleh sinden.

Pertunjukan alat musik gamelan ini biasanya berlangsung pada acara resmi di keraton, contohnya pada saat sehari sebelum diadakannya sekaten. Selain itu gamelan juga dipakai untuk mengiringi sebuah acara pernikahan yang diadakan oleh keluarga keraton. Pada umumnya kegiatan itu terjadi di keraton Yogyakarta.

Jenis-jenis yang ada di Gamelan

  • Gamelan Gede

Gamelan Gedhe terdiri dari ricikan yang lengkap antara laras slendro dengan laras pelog. Gamelan ini biasanya dipakai pada keperluan konser karawitan atau uyon-uyon.

  • Gamelan Wayang

Dilihat dari namanya, gamelan ini biasanya dipakai untung mengiringi pertunjukan wayang. Di lingkungan Keraton Surakarta, gamelan wayangan terdiri dari kendang, gender barung, gender penerus, slentrem, saron barung dua buah, demung, gambang, seruling, siter,  kecer, ketuk, kempyang, kenong, kempul, dan juga gong suwukan. Sementara untuk gamelan laras pelog juga digunakan untung mengiringi wayang madya dan wayang gedog.

  • Gamelan Pakurmatan

Gamelan ini memiliki 3 jenis, yaitu:

  1. Gamelan Monggang, di lingkungan keraton Surakarta biasanya dipakai untuk mengiringi Grebeg Mulud ketika keluarnya gunungan.
  2. Gamelan Caribbean, gamelan ini dimainkan di kalangan rumah keluarga keraton ketika punya hajat sebagai simbol untuk menghormati para tamu yang telah datang.
  3. Gamelan Kodok Ngorek, di daerah keraton Surakarta biasanya dipakai gamelan ini pada saat raja mengkhitankan putranya. Selain itu gending kodhok ngorek juga dipakai untuk mengiringi acara perkawinan.
  • Gamelan Sekaten

Alat musik ini biasanya hanya dipakai dalam sekali dalam setahun di keraton Yogyakarta dan Surakarta yakni untuk memperingati lahirnya Nabi Muhammad SAW. Selain itu gamelan Sekaten dimainkan di halaman Masjid Agung pada tanggal 6 – 12 Mulud  (pada bulan jawa).

Macam-macam Alat Musik Gamelan

Bagian Alat Musik Gamelan, nama-nama alat musik dalam Gamelan Jawa:

  • Gendang

Terbuat dari kulit hewan (Sapi atau kambing) Gendang berfungsi utama untuk mengatur irama. Gendang ini dibunyikan dengan tangan, tanpa alat bantu.Jenis kendang yang kecil disebut ketipung, yang menengah disebut kendang ciblon/kebar. Pasangan ketipung ada satu lagi bernama kendang gedhe biasa disebut kendang kalih. 

Gendang kalih dimainkan pada lagu atau gendhing yang berkarakter halus seperti ketawang, gendhing kethuk kalih, dan ladrang irama dadi. Bisa juga dimainkan cepat pada pembukaan lagu jenis lancaran ,ladrang irama tanggung. Untuk bermain gendang, dibutuhkan orang yang sangat mendalami budaya Jawa, dan dimainkan dengan perasaan naluri si pemain, tentu saja dengan aturan-aturan yang ada.

  • Demung, Saron, Peking

Alat ini berbentuk bilahan dengan enam atau tujuh bilah (satu oktaf ) ditumpangkan pada bingkai kayu yang juga berfungsi sebagai resonator. Instrumen mi ditabuh dengan tabuh dibuat dari kayu.