Month: May 2021

Ternyata Beginilah Sejarah dari Musik Barat

Posted on May 10, 2021 in Keberagaman Musik

Musik barat adalah salah satu jenis musik yang berasal dari negara-negara Barat. Musik barat yang kemudian hari berkembang di negara timur, tidak terkecuali di Indonesia. Musik Barat pada umumnya dimanfaatkan untuk kebutuhan pendidikan, hiburan, politik, agama, dan masih banyak lagi. Musik Barat berasal dari budaya yang mana negara-negara Barat yang berkembang sesuai dengan era globalisasi atau perkembangan zaman. Berdasarkan sejarahnya, musik Barat sudah ada sejak zaman Yunani Kuno atau sudah ada pada tahun 1100 SM. adapun Agen Sbobet perkembangan dari musik Barat dari zaman ke zaman adalah berikut diantaranya.

Musik Zaman Yunani Kuno Mulai Tahun 1100 SM

Dalam Yunani Kuno, musik dianggap sebagai ciptaan dewa-dewi seperti Apollo, Orpheus dan Amphion. Mereka menganggap bahwa musik memiliki kekuatan yang dapat menyempurnakan tubuh dan jiwa manusia serta dapat membuat mukjizat dalam dunia. Oleh karena itu, musik menjadi sesuatu hal yang tidak dapat dipisahkan dari upacara keagamaan.

Dalam zaman Yunani Kuno terdapat 2 aliran musik, yaitu musik untuk ibadah Dionysius dan musik untuk persembahan dewa Apollo. Musik Dionysius merupakan jenis musik yang beraliran semangat, kegemaran dan sifat-sifat yang kurang baik. Sedangkan musik Apollonian berkecenderungan menimbulkan ketenangan dan dorongan spiritual. Kedua aliran musik tersebut disebutkan dalam sejarah seni dasar musik Barat. Musik Yunani Kuno memiliki sifat sebagai berikut.

  • Monotonous (satu suara) dengan heterofoni pada waktu alat-alat musik mengikuti suara.
  • Sudah dipraktikannya improvisasi, tetapi diatur melalui konversi-konversi bentuk dan gaya dengan pola melodi yang mendasar.
  • Musik dan teks berhubungan erat, serta melodi, irama, dan puisi sangat menentukan cara penyusunan dalam musik.

Tokoh musik yang dikenal adalah Plato (427-247 SM), Aristoteles (384-322 SM), dan Aristodemos (350-300 SM).

Musik Zaman Romawi Mulai pada Tahun 753 SM

Kekuasaan Roma sangatlah luas dan juga sangat kuat sehingga stabilitasnya mampu membantu perkembangan kesenian. Alat-alat musik pun akan semakin banyak bervariasi. Alat musik tersebut, diantaranya beberapa jenis musik tiup dari logam, seperti terompet dan hom, jenis organ hidrolis dengan papan tiup yang memanfaatkan tekanan air sebagai peniupnya. Alat-alat musik ini dapat dipakai dalam teater-teater yang terbuka untuk mengiringi peraturan para gladiator.

Musik Abad Pertengahan pada Tahun 500 sampai 1350 M

Pada abad pertengahan diawali dengan runtuhnya kekaisaran Romawi. Pada awalnya masih bersifat monofonik atau bisa juga terdiri dari satu suara saja tanpa adanya iringan apapun. Musik pada abad ini juga didominasi musik gereja yang bersumber pada seni musik Yahudi dalam hal ini adalah madah (nyanyian bersumber dari ayat-ayat suci). Pada masa ini, khususnya itu pada masa Paus Gregorius Agung mencapai kesempurnaan artistik sehingga masa ini juga disebut sebagai musik gregorian.

Pada masa ini dimulai birama dan irama. Birama adalah sistem dari tekanan yang tetap sedangkan irama adalah sistem gerak melodis yang penuh dengan kehidupan, dinamika, dan variasi. Selain itu juga, dikenal sistem notasi musik mensural yaitu notasi nada yang memperhitungkan panjangnya nada sesuai dengan proporsi yang kemudian menjadi sebuah dasar balok.

Musik Zaman Renaisans pada Tahun 1350 hingga 1600

Kata renaisans yang berasal dari bahasa Prancis, yaitu renaissance yang berarti lahir baru menemukan kembali jati diri manusia yang memiliki arti manusia dengan akal budi aspirasi, cipta, karya, dan karsanya berhak untuk menentukan hal-hal yang berkaitan dengan individunya. Perkembangan baru dalam musik selama masa renaisans adalah perkembangan musik instrumental, baik solo maupun ansambel. Ada enam variasi bentuk lagu-lagu instrumental pada masa ini, yaitu sebagai berikut.

  • Musik vokal yang dimainkan dengan alat musik.
  • Ansambel berdasarkan melodi-melodi yang sudah ada.
  • Bentuk variasi dengan penambahan nada-nada hias untuk mengiringi tarian.
  • Bentuk ricerca, fantasia, dan chansons, yaitu komposisi berdasarkan tema dan variasi bukan berdasarkan irama tarian.
  • Toccata dan prelude karya bentuk bebas yang memakai banyak figurasi.
  • Musik tarian, yaitu musik untuk iring-iringan.

Musik Zaman Barok di Tahun 1600 hingga 1750

Istilah kata barok diambil dari bahasa Portugis, yaitu barocco yang berarti mutiara. Istilah barok hanya digunakan untuk memberi identitas bagi sebuah masa perkembangan seni musik pada tahun 1600-an hingga tahun 1750-an yang tidak ada ciri-ciri dramatis dibandingkan dengan masa sebelumnya.

Awalnya gaya musik ini dikritik sebagai musik yang harmoninya kurang jelas, kehilangan bentuk normal, eksentrik (berlebihan), kurang bermutu, tetapi kemudian dinilai positif karena bersifat hidup, lancar, lincah, dan penuh perasaan sehingga cocok untuk penyajian opera yang saat itu sedang populer. Pada masa ini mulai diperkenalkan sistem tangga nada mayor dan minor.

Zaman Musik Klasik di Tahun 1750 hingga 1800

Musik klasik adalah karya seni musik yang sempat menggantikan daya ekspresi dan bentuk bersejarah sedemikian rupa sehingga tercipta suatu ekspresi yang meyakinkan dan dapat bertahan terus. Zaman klasik ditandai dengan kembalinya gaya seni yang memperhatikan kaidah-kaidah formal. Musik klasik memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

  • Pemakaian kresendo dan dekresendo.
  • Pemakaian accelerando (mempercepat tempo) dan ritardando (memperlambat tempo) dalam penyajian musik.
  • Pembatasan pemakaian nada-nada penghias (ornamen).
  • Pemakaian akar trinada (akat tiga nada).

Komponis penting zaman ini, antara lain John Stamitz (1717-1757), Franz Joseph Haydn (1732-1809), dan Wolfgang Amadeus Mozart (1765-1791).

Musik Zaman Romantik di Tahun 1800 hingga 1890

Istilah romantik dalam sejarah perkembangan musik Eropa berhubungan dengan perasaan, sikap batin, dan jiwa manusia dengan bebas dan tidak terbatas. Adapun ciri khas musik zaman romantik adalah sebagai berikut.

  • Segi bentuk, masih mempertahankan bentuk musik klasik, tetapi dengan perluasan dan perubahan.
  • Segi harmoni, musik romantik mengembangkan musik klasik dengan penambahan nada-nada kromatik.
  • Segi ritmik, unsur ritmik seperti tempo mendapat perhatian secara cermat karena ritmik dianggap sebagai bagian dari ungkapan rasa dalam musik.
  • Segi warna suara, instrumen yang menghasilkan suara alamiah, seperti flute (suling), klarinet, tuba, dan trombon lebih diutamakan karena dapat menimbulkan suasana skral dan khidmat.

Zaman Musik Peralihan di Tahun 1890 hingga awal Abad XX

Sepeninggal Wagner, musik zaman romantik berakhir. Pada zaman ini lebih tegas warna nasionalnya karena muncul adanya kesadaran nasionalisme. Komponis zaman peralihan, antara lain Cesar Auguste Frack, Gustar Mahler, Peterllych Tcchai Kovsky, dan Sergei Ramaning.

Musik Abad Modern di Tahun 1900 hingga Sekarang

Ciri utamanya adalah sikap emansipatif, yaitu sikap ingin membebaskan diri dari segala belenggu yang mengekang kebebasan berekspresi. Kemudian muncul aliran musik impresionisme, ekspresionisme, dan eksperimental. Ciri lain zaman modern adalah industrialisasi dalam berbagai bidang, termasuk bidang musik.

Nah, itulah dia artikel tentang sejarah musik Barat dari zaman ke zaman, mulai zaman Yunani Kuno hingga abad modern seperti sekarang ini. Demikian artikel tentang salah satu materi dalam pelajaran Seni Budaya, sekian dan semoga bermanfaat.

Ada Banyak Musik Tradisional yang Ada di Indonesia

Posted on May 7, 2021 in Keberagaman Musik

Indonesia adalah negara kepulauan yang paling terbesar yang ada di dunia. Kekayaan alamnya sudah tidak perlu kalian ragukan lagi. Mulai dari hasil sumber daya alam darat hingga lautnya yang dapat dinikmati oleh masyarakat. Begitu pun dengan keanekaragaman budayanya, di mana setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing dari setiap sisi kehidupannya. Kita harus merasa beruntung tinggal di Indonesia. Kita bisa mencicipi berbagai hidangan daerah yang beragam, menyaksikan keunikan budayanya, hingga menikmati setiap musik tradisional dari berbagai daerah. 

Ya, daerah-daerah di Indonesia pun juga memiliki musik tradisional mereka sendiri. Setiap musik tradisional memiliki ciri khas masing-masing, dan tidak jarang, musik ini mewakili bagaimana suasana di daerah tersebut. Meski terbilang tradisional, kekhasan dan keunikan musik tradisional ini tidak dimiliki musik modern yang ada saat ini. Musik tradisional ini juga memiliki fungsi tersendiri. Fungsi dari musik tradisional inilah yang menunjukkan kedudukan dan perannya dalam tradisi maupun kehidupan masyarakat daerah tersebut sehari-hari.

Fungsi Musik Tradisional Pengiring Upacara Adat atau Ritual

Seperti yang sering kita lihat, upacara-upacara adat di Indonesia selalu melibatkan musik tradisi. Apabila kedudukan musik tersebut merupakan bagian pokok dalam upacara adat, maka disebut musik tradisi. Kehadirannya dalam upacara adat pun bersifat mutlak. Sedangkan jika kedudukan musik dalam upacara adat bukan bagian pokok upacara, maka kehadirannya bersifat tidak mutlak atau bisa digantikan. Namun tetap tidak kehilangan martabatnya sebagai musik tradisional.

  • Pengiring Tarian

Musik tradisional juga selalu digunakan masyarakat untuk mengiringi tari-tarian khas daerahnya. Kebanyakan tarian khas daerah di Indonesia juga hanya cocok jika diiringi musik daerahnya sendiri. Ini karena antara tarian dan musik pengiringnya memiliki keselarasan yang khas. Iringan musik yang sesuai menjadikan tarian tampil lebih hidup.

  • Sarana Hiburan

Seperti halnya musik modern, musik tradisional juga digunakan sebagai sarana hiburan. Hiburan yang bersifat individu akan menyegarkan kembali pikiran dan mental seseorang. Hiburan yang sifatnya melibatkan orang banyak memberikan nilai tambah, berupa sarana untuk merekatkan hubungan sosial antar warga.

  • Sarana Komunikasi

Musik tradisional juga bisa menjadi sarana komunikasi. Hal ini terjadi apabila musik tradisional dijadikan media untuk menyampaikan pesan kepada khalayak penikmatnya.

  • Sarana Ekonomi

Musik tradisional tak jarang juga bisa menghasilkan pendapatan sambil tetap menikmati kepuasan batin. Bagi senimannya pendapatan bisa berupa wujud ucapan terima kasih ataupun bayaran atas jasa bermain musiknya.

Jenis Musik Tradisional

  • Gambang Kromong dari Betawi

Awalnya jenis musik tradisional gambang kromong menggunakan nada pentatonis (lima nada) dan alat-alat musik Tiongkok. Namun, sekarang musik tradisional ini telah berkembang dengan melibatkan unsur-unsur alat musik modern. Lagu-lagunya yang dinyanyikan pasangan pria dan wanita bersifat sindiran jenaka.

  • Keroncong dari Jakarta

Jenis musik tradisional ini merupakan warisan atau setidaknya pengaruh dari bangsa Portugis. Namun, oleh para pemusik Indonesia, kemudian dikembangkan dengan memasukkan unsur-unsur alat musik tradisional seperti gamelan, dan jadilah langgam Jawa.

  • Gong Luang dari Bali

Jenis musik tradisional ini hampir mirip gendhing Jawa, karena jenis alat musik dan nada suaranya serupa meskipun tidak sama. Citarasa gong luang lebih meriah dibanding gendhing Jawa.

  • Karang Dodou dari Kalimantan Timur

Jenis musik tradisional ini tergolong musik tradisi yang digunakan dalam upacara adat, yaitu saat kelahiran, untuk mengiringi pembacaan mantra-mantra saat pemberian nama bayi.

  • Angklung Buhun dari Kanekes di Jawa Barat

Musik tradisional ini juga tergolong musik tradisi masyarakat Baduy yang dimainkan untuk mengiringi tarian musim tanam.

  • Huda dari Minangkabau

Musik tradisional ini bernuansa Islami dan unik, karena terdiri dari tiga jenis musik serupa namun berlainan, termasuk di dalamnya Salaulaik Dulang. Salaulaik merupakan musik asli Tanah Minang.

  • Kombi dari Papua

Jenis musik tradisional bersuara gendang ini menggunakan bambu berlobang yang diberi tali sayatan rotan, dan tidak menggunakan tifa. Dari arti katanya sebenarnya alat musik petik, namun cara memainkannya dengan rotan ditepuk. Musik tradisional ini digunakan untuk hiburan dan upacara adat.

  • Cilokak dari Lombok

Musik tradisional ini menggunakan beberapa alat musik, antara lain drum, biola, seruling, gambus, gong, dan lain-lain.

  • Krumpyung dari Yogyakarta/Jawa Tengah

Jenis musik tradisional ini menggunakan alat musik yang terbuat dari bambu, semacam angklung yang nada suaranya seperti gambang dan gong bumbung tiup. Meskipun jarang, krumpyung dimainkan bersama musik tradisional lainnya yaitu gejog lesung. Gejog lesung adalah suara menumbuk padi, namun berirama.

  • Sasando dari Rote

Musik petik tradisional ini unik, karena meskipun berasal dari daerah Indonesia Timur nadanya bercorak salendro dan pelog mirip kecapi Sunda dan siter Jawa.

  • Painting dari Kalimantan Selatan

Musik tradisional ini menggunakan alat utama alat petik dan dilengkapi dengan alat-alat musik lainnya, seperti babaun, agung, marakas dan talinting.

  • Tingkilan dari Kalimantan Timur

Musik tradisional ini menggunakan alat utama gambus, ketipung, dan biola. Jenis musik tradisional ini digunakan untuk mengiringi tarian, nyanyian hiburan maupun upacara adat.

  • Musik Gondang

Musik tradisi masyarakat Batak Toba disebut sebagai gondang. Ada tiga arti untuk kata “gondang”:

  • Satu jenis musik tradisi Batak toba;
  • Komposisi yang ditemukan dalam jenis musik tsb. (misalnya komposisi berjudul Gondang Mula-mula, Gondang Haroharo dsb; dan
  • Alat musik “kendang”.

Ada 2 ansambel musik gondang, yaitu Gondang Sabangunan yang biasanya dimainkan di luar rumah dihalaman rumah; dan gondang Hasapi yang biasanya dimainkan dalam rumah. Ansambel musik yang memakai alat-alat terbuat dari perunggu, di daerah Batak Toba biasanya terdiri dari perlengkapan yang punya empat sampai dua belas gong kecil, satu atau dua gong besar yang digantung, dua sampai sembilan kendang, satu alat tiup, penyari dan gembreng.

Satu Ansambel yang khas jenis ini ada gondang sabangunan dari Batak Toba. Ansambel ini masih dipakai dalam upacara agama Parmalim. Gondang sabangunan punya peran yang penting sekali dalam upacara agama tersebut. Gondang Sabangunan terdiri dari sarune bolon (sejenis alat tiup-obo), taganing (perlengkapan terdiri dari lima gendang yang dikunci punya peran melodis dengan sarune tsb), gordang (sebuah gendang besar yang menonjolkan irama ritme), empat gong yang disebut ogung dan hesek sebuah alat perkusi (biasanya sebuah botol yang dipukul dengan batang kayu atau logam) yang membantu irama.

  • Musik Gong Luang

Musik Gong Luang adalah musik khas asli dari Bali. Musik ini awalnya adalah peninggalan dari Kerajaan Majapahit di Jawa yang kemudian dibawa ke Bali. Kata Gong Luang sendiri berasal dari kata “Luang” yang berarti kurang, karena memang alat-alat gong yang dipakai tidak lengkap.

Musik Gong Luang hanya memakai 25-30 alat musik diantaranya Gangsa, Jublag, Jegog, Saron, Talempong, Kendang, Suling, dan Riyong. Jumlah itu terkadang berbeda tergantung daerahnya masing-masing.

Keunikan dari musik Gong Luang ini adalah memiliki 7 tangga nada yaitu ndang, ndaing, nding, ndong, ndeng, ndeung, ndung. Untuk laras terdiri dari laras pelog, laras slendro, dan laras keselendroan. Musik Gong Luang ini biasanya untuk di Bali digunakan sebagai pengiring upacara adat, selain itu juga digunakan untuk pengiring tari-tarian contohnya Tari Topeng, Tari Baris Poleng, Tari Pendet, Tari Rejang dan lain sebagainya.